Suamiku Selingkuh Dengan Baby Sitter di Depan Anak-Anak Kami


Perselingkuhan selalu menjadi kisah yang terdengar menyedihkan, atau beberapa orang justru tidak ingin mendengarnya. Perselingkuhan kadang menjadi bumbu dalam serial percintaan, namun kisah tersebut akan terdengar lebih menyedihkan jika diceritakan secara langsung oleh korbannya. Seperti kisah yang akan Anda baca kali ini, seorang wanita bernama Abigail Sheperd. Dilansir oleh dailymail.co.uk, Abigail membagikan kisah pernikahannya bersama Ben, hingga perselingkuhan sang suami dengan pengasuh anak-anak mereka.

Untuk pertama kalinya saya merasa sangat sedih saat melihat satu sisi ranjang kosong. Biasanya saya dan suami tidur di ranjang yang sama. Saya tidak hanya merasa sedih, tetapi juga marah. Beberapa hari yang lalu, suami saya memutuskan untuk meninggalkan saya dan mengakhiri pernikahan kami. Yang menjadi penyebab hancurnya pernikahan kami adalah wanita lain. Wanita ini bukan wanita asing, sebab dia adalah pengasuh di rumah kami yang telah bekerja selama 15 bulan.

Tidak hanya itu, hal yang lebih menyayat hati adalah ketika suami saya lebih memilih tidur di kamar pengasuh saat kami masih tinggal bersama. Padahal, kami memiliki 2 orang anak yang masih kecil. Joseph masih berusia 6 tahun, dan Grace masih berusia 4 tahun. Mereka berdua belum tahu mengenai perpisahan kami, karena saya tidak ingin mereka mengetahuinya.

Dapatkah Anda membayangkan bagaimana rasanya jika suami Anda meninggalkan Anda demi seorang pengasuh, meski itu terasa seperti hal yang klise. Meskipun selama ini saya sering meragukan hubungan kami, namun saya tidak pernah menduga ia akan mengkhianati saya.

Kami pertama kali bertemu 20 tahun yang lalu. Saat itu saya berusia 18 tahun, sedangkan Ben berusia 20 tahun, dan saat itu ia lah yang lebih menginginkan untuk bersama saya. Butuh waktu 3 bulan sebelum akhirnya saya setuju untuk berkencan dengannya. Kecintaan pada musiklah yang mempersatukan kami.

Setelah cukup lama berpacaran, satu tahun kemudian Ben melamar saya, lalu satu tahun berikutnya kami menikah, dan kami membeli rumah pertama kami.

Abigail dan Ben saat menikah pada Juli 1999 | copyright dailymail.co.ukAbigail dan Ben saat menikah pada Juli 1999 | copyright dailymail.co.uk

Setelah beberapa tahun menikah, barulah kami dikaruniai anak, seorang putra lahir pada tahun 2008, dan seorang putri lahir 2 tahun kemudian. Saat itupun saya masih ragu dengan hubungan kami. Saya tidak pernah memiliki ketertarikan khusus pada Ben. Saya mencintainya, namun saya tidak pernah merasa jatuh cinta kepadanya. Jujur saja, sebenarnya saya mendambakan kasih sayang, namun bukan dari Ben.

Dan, tragedi itu terjadi ....

Pada Agustus 2013, singkatnya setelah kami berdua berlibur tanpa anak-anak di Prague, kami berdua sama-sama disibukkan oleh pekerjaan. Saya sebagai koordinator di sebuah perusahaan periklanan, sementara Ben adalah seorang IT manager. Kami pun berpikir bahwa memiliki seorang pengasuh mungkin akan membantu agar kami memiliki lebih banyak waktu untuk bersama.

Lalu muncullah Anna, 21 tahun dan berasal dari New Zealand. Ia adalah seorang pengajar tari yang sedang mencari kesempatan untuk hidup di Inggris. Kami kemudian melakukan wawancara via Skype, dan kami menerimanya. Lalu ia pindah ke rumah kami satu bulan kemudian.

Ia tidak tampak seperti wanita seksi pada umumnya yang membuat para istri khawatir. Tubuhnya kurus, berpenampilan biasa, dengan rambut berwarna merah panjang yang seringkali dikepang.

Namun satu hal yang penting adalah ia sangat dekat dengan anak-anak. Ia mengajarkan balet pada putri kecil saya, dan seringkali mengepang rambutnya sebelum ia pergi ke sekolah. Ia dan Ben memiliki ketertarikan yang sama dalam hal musik, dan seringkali pergi bersama untuk menonton pertunjukan musik, dengan saya mengijinkannya, karena kadang saya terlalu lelah untuk menemani Ben.

Saya pertama kali menyadari bahwa mereka bukan hanya sekedar teman adalah saat kami berlima berlibur bersama ke Belgia, Desember lalu. Dan saya merasa seperti sayalah yang merupakan orang asing, bukan Anna. 

Saat itu akhirnya saya menyadari bahwa ada "rasa sayang" dari cara Ben memandangnya. Saat itu mereka berdua duduk di bagian depan, sedangkan saya di bagian belakang mobil dengan anak-anak tertidur di kedua sisi saya. Saya hanya bisa menangis dalam diam.

Ternyata insting saya tepat. Beberapa hari kemudian, Ben mengakhiri pernikahan kami, hanya melalui pesan singkat.

Kami sudah di rumah waktu itu, dan saat saya bangun dari tidur, rumah sedang kosong. Ben sudah pergi keluar dengan anak-anak. Saya tidak percaya dengan pesan yang saya baca, "aku tidak mencintaimu lagi, dan aku rasa kamu juga tidak mencintaiku. Lebih baik pernikahan ini kita akhiri saja". Saya membacanya berulang kali, berharap saya salah membacanya. Lalu saya membalas pesan itu dengan bertanya apakah karena ada wanita lain. Dan saya sangat terpukul saat Ben mengatakan bahwa ia jatuh cinta pada Anna.

Saya tiba-tiba merasa sangat takut. Ya, saya memang tidak yakin dengan pernikahan ini, namun Ben tetaplah suami saya, dan kami sudah bersama selama 20 tahun. Belum lagi saya sudah menganggap Anna sebagai teman.

Singkatnya, saya berusaha meminta Ben untuk berpikir ulang tentang hal ini, tapi tidak berhasil. Ben pun menyarankan agar untuk sementara waktu saya tinggal di rumah orang tua saya, dan saya setuju. Saat saya sedang berkemas, Anna datang. Saya mengikutinya ke kamar, dan berusaha untuk tetap tenang karena tidak ingin anak-anak mendengar pembicaraan ini. Saya lalu menanyakan sejauh apa hubungan mereka. Ia mengaku telah berciuman dengan Ben 2 hari yang lalu saat saya tidur lebih awal. Saya hanya bisa percaya, karena saya pikir, apalagi yang akan mereka tutupi jika saya sudah tahu semua?

Dua hari kemudian, saya kembali ke rumah itu karena saya berpikir, "mengapa harus saya yang berkorban, dan dijauhkan dari anak-anak?". Saat itu saya sudah lebih kuat menerima kenyataan bahwa pernikahan kami telah berakhir, dan saya berkata pada Ben bahwa saya ingin tidur di kamar kami, sehingga saya menyarankan agar ia tidur di ruang kerjanya di rumah kami.

Namun apa yang terjadi? Ia pindah ke kamar Anna malam itu juga, dan ia mengaku bahwa mereka telah tidur bersama di hari saya pergi ke rumah orang tua saya. Saya merasa sangat jijik, namun saya harus tetap tenang. 

Tinggal bersama suamiku dan selingkuhannya, dengan cara apa aku harus bertahan?

Aku Harus Bertahan, Demi Anak-Anak ...


 Kami harus menjaga rahasia ini dari anak-anak, hingga 4 minggu kemudian Ben dan saya membuat keputusan bahwa saya akan pindah dari rumah itu, dan ia tetap tinggal di sana. Agar anak-anak tidak curiga, Ben selalu bangun lebih pagi, jadi anak-anak tidak akan melihat ia keluar dari kamar Anna.
Hal ini terjadi selama 4 bulan, sebelum akhirnya saya menemukan rumah baru yang berjarak 5 menit dari rumah itu. Saya tidak mungkin tinggal di tempat yang penuh dengan kenangan. Dan yang anak-anak tahu hanyalah mereka akan punya kamar baru, di rumah baru, dan mereka senang karena mereka boleh memelihara kucing di rumah baru saya. 

Anda mungkin berpikir, mengapa saya tidak meminta Anna keluar dari rumah? Alasannya sederhana, karena saya menyukai Anna, dan Anna sudah menjadi bagian dari hidup anak-anak selama 2 tahun terakhir. Anak-anak menyukainya, dan dia juga menyukai anak-anak. Saya tidak ingin memisahkan mereka. 

Mungkin karena alasan itu juga, Ben lebih memilih berselingkuh dengan pengasuh kami, ketimbang dengan rekan kerjanya. Karena Anna dekat dengan anak-anak, karena Anna memiliki ketertarikan tersendiri dari hubungannya dengan anak-anak. Namun jangan salah, mengingat perasaan saya pada Ben, saya tetap merasa terluka dan dikhianati.

Ada kalanya saya merasa kesepian, dan membayangkan bahwa mereka sedang berbagi kebahagiaan, bercanda tawa di sofa yang dulu saya dan Ben pilih, di rumah kami. Namun perasaan itu muncul bukan karena saya masih menginginkan Ben, tapi lebih karena saya juga ingin merasakan kebahagiaan yang sama.

Saya sudah beberapa kali mencoba bertemu pria baru, dan di usia 38 tahun ini, saya tidak ingin gagal lagi. Saya ingin merasakan jatuh cinta, serta semua hal yang tidak saya rasakan saat bersama Ben. Semakin sering saya berpikir, mungkin pernikahan kami berakhir bukan karena Anna. Dan Anna hanyalah katalis (dalam reaksi kimia merupakan senyawa yang mempercepat reaksi).

Semoga mereka bisa membuat apa yang sedang terjadi ini terlihat wajar bagi anak-anak, dan saya juga berharap mereka bahagia.

Meski kini ikatan pernikahan antara Abigail dan Ben telah berakhir, namun kami yakin bahwa Abigail akan menjalani kehidupan yang lebih baik, dengan cinta dan kekuatan dari anak-anaknya. 

Terima kasih Abigail, karena telah bersedia membagikan kisah ini kepada seluruh wanita di dunia. Semoga kisah yang sama tidak akan terulang lagi, baik pada Abigail maupun pada pembaca semua.

0 Response to " Suamiku Selingkuh Dengan Baby Sitter di Depan Anak-Anak Kami "

Posting Komentar